Tugu Jogja: Lebih dari Monumen, Titik Harmoni Alam & Jiwa Kota Gudeg!. Gambar : http://raminten.com

Tugu Jogja: Lebih dari Monumen, Titik Harmoni Alam & Jiwa Kota Gudeg!


Tugu Jogja: Lebih dari Monumen, Titik Harmoni Alam & Jiwa Kota Gudeg!. Gambar : http://raminten.com
02 Mei 2026 20:00
02/05/2026
354
http://raminten.com

Tugu Jogja: Lebih dari Monumen, Titik Harmoni Alam & Jiwa Kota Gudeg!

dijogja.co -

Siapa sih yang tidak kenal dengan Tugu Jogja? Monumen bersejarah yang berdiri gagah di pusat kota ini sudah menjadi ikon tak tergantikan Yogyakarta. Hampir setiap orang yang berkunjung ke Jogja pasti punya foto dengan latar belakang Tugu, baik pagi, siang, maupun malam. Namun, di balik kepopulerannya sebagai spot foto, Tugu Jogja menyimpan kisah panjang penuh makna yang erat kaitannya dengan sejarah dan filosofi hidup masyarakat Jawa.

Tugu Jogja dibangun pada tahun 1755, tak lama setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Awalnya, bentuk tugu ini sederhana dengan tinggi sekitar 25 meter dan dikenal dengan nama Tugu Golong Gilig. Filosofinya sangat dalam: menggambarkan persatuan antara raja dan rakyat untuk melawan penjajah, sekaligus simbol hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Bentuk “gilig” (silinder) dan “golong” (bulat) ini merepresentasikan kesatuan yang utuh dan kokoh.

Namun, sejarah tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1867, gempa besar melanda Yogyakarta dan merobohkan Tugu asli. Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun kembali tugu tersebut, tetapi dengan desain yang berbeda. Tingginya dikurangi menjadi sekitar 15 meter, bentuknya lebih ramping, dan dihiasi ornamen khas Eropa. Sejak saat itu, masyarakat menyebutnya sebagai Tugu Pal Putih, karena warnanya yang serba putih hingga sekarang.

Walau bentuknya berubah, makna Tugu Jogja tidak pernah hilang. Monumen ini tetap menjadi penanda penting kota Yogyakarta, terutama karena letaknya yang strategis. Dari arah Tugu, garis imajiner lurus bisa ditarik hingga Keraton Yogyakarta dan berlanjut ke arah selatan sampai Laut Selatan. Garis imajiner ini dipercaya sarat filosofi Jawa tentang keseimbangan antara gunung, keraton, dan laut sebuah harmoni antara manusia, alam, dan dunia spiritual.

Seiring berjalannya waktu, Tugu Jogja bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga bagian dari gaya hidup. Pada malam hari, kawasan ini selalu ramai dengan wisatawan maupun warga lokal yang nongkrong, berburu foto, atau sekadar menikmati suasana kota. Lampu jalan yang temaram berpadu dengan lalu lintas kendaraan menciptakan suasana khas Yogyakarta yang sulit ditemui di tempat lain. Tak heran jika Tugu Jogja disebut sebagai “panggung kota” yang tidak pernah sepi penonton.

Menariknya, Tugu Jogja juga punya daya tarik emosional. Bagi banyak orang, monumen ini seperti penanda bahwa mereka benar-benar sudah sampai di Yogyakarta. Bahkan, ada ungkapan bahwa “belum sah ke Jogja kalau belum foto di Tugu.” Karena itu, hampir semua paket wisata kota pasti memasukkan Tugu Jogja sebagai destinasi wajib.

Kini, Tugu Jogja terus dijaga keberadaannya oleh pemerintah dan masyarakat. Renovasi dilakukan secermat mungkin agar bentuk dan nilai historisnya tetap terjaga. Setiap kali melewati atau berhenti sejenak di kawasan ini, kita seperti diajak menyelami sejarah panjang Jogja sekaligus merasakan getaran filosofi hidup orang Jawa.

Jadi, Tugu Jogja bukan sekadar monumen biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah, simbol persatuan, dan ikon budaya yang akan selalu melekat dalam identitas Yogyakarta.

Iklan

HUT RI ke 81
Jasa Pembuatan Website Jogja tour Travel
Pasang Iklan Gratis

Mau Pasang Iklan? Email: [email protected]