Genter, Galah Bambu Andalan Warga untuk Petik Buah di Ketinggian. Gambar : ilustrasi

Genter, Galah Bambu Andalan Warga untuk Petik Buah di Ketinggian


Genter, Galah Bambu Andalan Warga untuk Petik Buah di Ketinggian. Gambar : ilustrasi
17 Februari 2026 14:14
17/02/2026
422
ilustrasi

Genter, Galah Bambu Andalan Warga untuk Petik Buah di Ketinggian

dijogja.co -

Di kampung-kampung sekitar Jogja, keberadaan genter bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari ritme hidup warga sejak dulu. Sebelum tangga aluminium dan alat teleskopik dikenal luas, orang-orang desa sudah akrab dengan bambu panjang yang dipilih dengan teliti dari rumpun terbaik. Dari sanalah lahir galah sederhana yang mampu menjangkau pucuk pohon paling tinggi.

Secara bentuk, genter memang tampak sangat apa adanya: sebatang bambu lurus, ujungnya dipasangi pisau kecil, sabit mungil, atau pengait kawat. Namun kesederhanaan itu justru hasil pengalaman turun-temurun. Warga tahu bambu mana yang lentur tapi kuat, mana yang ringan namun tidak mudah pecah saat menahan beban kelapa yang beratnya bisa berkilo-kilo. Bahkan proses memilih bambu sering dilakukan pada usia tertentu agar seratnya padat dan tidak mudah retak.

Alat ini dipakai untuk memetik beragam buah: kelapa, mangga, rambutan, sampai sawo. Caranya pun butuh keterampilan. Ujung galah diarahkan perlahan ke tangkai buah, lalu diputar atau ditekan sampai putus. Sekilas mudah, tetapi butuh keseimbangan tangan dan rasa agar buah tidak jatuh sembarangan. Tak jarang, orang tua mengajari anaknya menggunakan genter sebagai bagian dari belajar berkebun sejak kecil.

Di pedesaan Yogyakarta, bentuk genter bisa berbeda antar wilayah. Ada yang memakai pisau melengkung kecil agar tangkai terpotong rapi, ada pula yang menambahkan lingkaran kawat supaya buah tertahan sebelum jatuh. Untuk kelapa, ujungnya dibuat lebih tajam, sementara untuk rambutan biasanya lebih halus agar tidak merusak ranting.

Kini alat pemetik modern memang semakin mudah ditemukan. Tetapi genter bambu tetap dipertahankan. Selain murah dan mudah dibuat, alat ini terasa menyatu dengan kebun dan halaman rumah. Tidak berisik, tidak butuh perawatan rumit, dan bisa dipakai bertahun-tahun.

Bagi warga desa, genter bukan sekadar galah. Ia adalah simbol kearifan sederhana: memanfaatkan alam secukupnya, bekerja dengan sabar, dan menjaga jarak aman dari risiko. Dari halaman rumah hingga kebun pinggir sawah, bambu panjang itu masih setia membantu tangan-tangan yang hidup dekat dengan pohon dan musim.

Iklan

HUT RI ke 81
Jasa Pembuatan Website Jogja tour Travel
Pasang Iklan Gratis

Mau Pasang Iklan? Email: [email protected]