Sekaten: Tradisi Kuno Jogja yang Tetap Eksis Sampai Sekarang. Gambar : ig @wahyu.eka.saputra95

Sekaten: Tradisi Kuno Jogja yang Tetap Eksis Sampai Sekarang


Sekaten: Tradisi Kuno Jogja yang Tetap Eksis Sampai Sekarang. Gambar : ig @wahyu.eka.saputra95
13 Desember 2025 12:00
13/12/2025
673
ig @wahyu.eka.saputra95

Sekaten: Tradisi Kuno Jogja yang Tetap Eksis Sampai Sekarang

dijogja.co -

Di tengah hingar-bingar kehidupan modern yang serba digital, siapa sangka tradisi kuno yang berumur ratusan tahun masih tetap eksis dan dinanti-nanti masyarakat? Ya, itulah Sekaten, salah satu tradisi paling khas di Yogyakarta yang tetap lestari dan meriah hingga kini. Bukan hanya sekadar upacara adat, Sekaten adalah pesta rakyat, perayaan spiritual, sekaligus simbol eratnya hubungan antara budaya, agama, dan kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Sekaten?

Sekaten berasal dari kata “Syahadatain”, yang merujuk pada dua kalimat syahadat dalam ajaran Islam. Tradisi ini pertama kali diselenggarakan pada masa Kesultanan Demak sebagai bentuk dakwah Sunan Kalijaga yang menyisipkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan seni. Seiring waktu, Sekaten berkembang dan menjadi tradisi tahunan Kesultanan Yogyakarta yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun jangan bayangkan Sekaten sebagai acara yang sakral dan kaku. Justru sebaliknya, Sekaten adalah salah satu momen paling meriah di Jogja. Mulai dari prosesi adat hingga pasar malam yang penuh warna, semuanya tumpah ruah menjadi satu perayaan besar yang dirindukan masyarakat setiap tahunnya.

Dimulai dari Keraton

Rangkaian acara Sekaten dimulai dari Keraton Yogyakarta. Biasanya dimulai dengan prosesi keluarnya dua gamelan keramat milik keraton, yaitu Gamelan Sekati Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nogowilogo. Keduanya dibawa dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman dalam sebuah kirab budaya yang sangat khidmat namun juga memukau.

Gamelan inilah yang nantinya akan dimainkan selama seminggu penuh di pelataran Masjid Gedhe. Suara gamelan yang mengalun di malam hari konon dipercaya mampu menarik perhatian masyarakat untuk datang ke masjid, mengenal ajaran Islam, dan mengikuti pengajian-pengajian. Di situlah filosofi awal dari tradisi Sekaten dibangun supaya agama diperkenalkan melalui sentuhan budaya yang lembut dan menghibur.

Pasar Malam Sekaten: Magnet Wisata dan Hiburan Rakyat

Salah satu bagian yang paling ditunggu dari Sekaten tentu saja adalah Pasar Malam Sekaten. Digelar di Alun-Alun Utara, pasar malam ini selalu ramai dikunjungi, baik oleh warga lokal maupun wisatawan. Di sini kamu bisa menemukan segala macam hiburan rakyat, mulai dari wahana permainan tradisional seperti ombak banyu dan bianglala, hingga stand makanan kaki lima, kerajinan tangan, dan pakaian murah meriah.

Tak hanya itu, banyak juga panggung hiburan yang menampilkan musik dangdut, orkes melayu, hingga pertunjukan wayang. Anak-anak, remaja, hingga orang tua semua bersatu dalam kegembiraan yang jarang bisa ditemukan di tempat lain.

Meski dunia sudah berubah dan semua serba digital, Pasar Malam Sekaten tetap jadi tempat favorit untuk berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati malam dengan cara yang sederhana tapi membahagiakan.

Gunungan: Puncak Prosesi yang Penuh Makna

Puncak acara Sekaten adalah prosesi Grebeg Maulud, di mana Keraton mengarak Gunungan dari halaman dalam menuju Masjid Gedhe. Gunungan ini bukan sekadar hiasan, tapi berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran, padi, dan jajanan yang disusun menjulang seperti gunung. Setelah doa dipanjatkan, gunungan tersebut akan diperebutkan warga.

Masyarakat percaya bahwa siapa pun yang berhasil mendapatkan bagian dari gunungan akan mendapat berkah. Meskipun terkesan ramai dan rebutan, prosesi ini berlangsung dengan penuh semangat dan tetap dijaga oleh pasukan khusus Keraton agar berjalan tertib.

Sekaten di Tengah Modernitas

Menariknya, meskipun zaman sudah bergeser ke arah modern, tradisi Sekaten tidak kehilangan makna. Justru sekarang, Sekaten menjadi daya tarik wisata budaya yang sangat kuat. Banyak generasi muda yang ikut terlibat, baik sebagai pelaku budaya, penonton, maupun pendokumentasi lewat media sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi bisa tetap hidup, selama kita merawatnya dan memberi ruang bagi generasi baru untuk ikut berperan. Sekaten bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang bagaimana kita memaknai identitas budaya di masa kini.

Sekaten adalah contoh nyata bahwa tradisi bukan sesuatu yang ketinggalan zaman. Ia hidup, tumbuh, dan terus beradaptasi. Di tengah kemajuan zaman, masyarakat Jogja tetap bisa merayakan identitas budayanya dengan bangga. Jadi, kalau kamu berkesempatan datang ke Jogja saat bulan Maulid, sempatkan mampir ke Alun-Alun Utara dan rasakan sendiri semangat Sekaten yang hangat, meriah, dan penuh makna. Sebuah pengalaman budaya yang tak akan kamu lupakan.

Iklan

HUT RI ke 81
Jasa Pembuatan Website Jogja tour Travel
Pasang Iklan Gratis

Mau Pasang Iklan? Email: [email protected]